Jumat, 15 April 2011

Membangun Perkampungan Lebah, Mendorong Pendapatan Warga


DEPOK, Bagi sebagian orang, lebah merupakan serangga yang membahayakan. Mereka suka menyengat siapapun yang dianggap membahayakan kehidupan mereka. Tapi tidak bagi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Pelebahan Indonesia, Wawan Darmawan. Wawan melihat lebah sebagai serangga penghasil ‘emas’. Bahkan, ia memiliki impian membangun perkampungan lebah dunia di Kota Depok. “Impian itu timbul sejak tahun 1987. Masih ada sampai sekarang. Walaupun kenyataannya agak sulit diwujudkan,” katanya, Jumat (15/4).

Wawan mengatakan, sebagai ordo Hymenoptera, lebah memiliki tiga pasang kaki, dan dua pasangan sayap. Lebah memiliki kebiasaan membuat sarang di atas bukit, pohon kayu, dan atap rumah. Lebah memakan nektar bunga dan serbuk sari. “Pengetahuan kita tentang lebah akan membuat kita lebih menyukai dan mencintai lebah,” katanya.
Pikiran Wawan pun melayang jauh kemasa silam. Ia masih ingat kala mencoba mewujudkan impian membangun perkampungan lebah untuk mensejahterakan warga sekitar. Sepetak tanah tak luas sengaja dibeli. Lahannya sama sekali belum terjamah manusia. Banyak tanaman lebat tumbuh disana-sini. Rindang dan teduh. Infrastruktur jalannya pun sangat mengecewakan. Rusak, tak bisa dilalui kendaraan. Jangan kan mobil, kendaraan roda dua pun sulit melintas. “Kalau bawa motor harus didorong. Percuma dinaikin. Soalnya nggak bisa jalan. Dulunya kawasan ini sangat hijau dan nyaman,” katanya mengenang lokasi rumahnya di Jalan Dongkal, Kelurahan Sukatani, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok.

Ia berharap perkampungan itu menjadi perkampungan lebah terbesar. Menjadi objek wisata sekaligus pusat studi perlebahan. Menurutnya, suasana saat itu cukup memadai. Tumbuhan produktif sangat banyak. Kondisinya pun subur dan sehat. Layak sebagai lokasi pembudidayaan lebah. ”Apalagi waktu itu saya pun sudah berkecimpung sebagai petani lebah. Menernakan lebah dan mengolah madu,” ujar Wawan.

Dengan bekal pengetahuan yang mumpuni, Wawan penuh percaya diri menggagas perkampungan lebah. Mengajak elemen pemuda lokal untuk terlibat. Menjadi petani-petani lebah. Sedikitnya 90 pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Sukatani pun menimba ilmu. Belajar menekuni pembudidayaan lebah. “Saya memberikan pelatihan itu,” ujarnya.

Berbagai fasilitas usaha pun, sambung dia, disediakan. Mulai dari bibit lebah sampai kebutuhan lainnya. Agar calon petani lebah muda itu siap mengelola usahanya. ”Sayang semuanya tak terwujud. Pemuda lebih memilih usaha lain, yang saya pikir belum juga menarik,” kata enterpeneur muda ini.

Berbekal sedikit impian yang tersisa, Wawan terus berusaha mewujudkan. Tanpa dukungan pemuda, lokasi pembudidayaan lebah pun dibangun. Termasuk pusat pengolahan madu dan outlet madu. ”Saya sebut sebagai pilot project perlebahan. Siapa saja bisa belajar pembudidayaan lebah disini,” terang pria kelahiran Jakarta, November 1959 ini.

Namanya pun, tegas dia, lebih memilih Pusat Perlebahan Sukatani. Dengan sejumlah fasilitas yang masih sederhana. Tetapi cukup memadai untuk mendapatkan pengetahuan tentang perlebahan. Wawan berpendapat mengelola lebah ini sangatlah menguntungkan. Konsep pengelolaannya pun lebih diutamakan berbasis masyarakat.

Agar manfaatnya dapat lebih besar. Menurutnya pengembangan usaha lebah cukup propektif. Dengan omzet yangdapat dikantongi setiap rumah tanggah sebesar Rp800 ribu per bulan. Itu pun dalam mekanimse perawatan yang tak menyita waktu. ”Artinya jika disetiap rumah ada sarang lebah yang dipelihara, maka keuntungan rupiah bisa didapat. Asalkan pula pasokan makanan untuk lebah selalu tersedia,” ujarnya.

Sayangnya, lanjut dia, di Sukatani Depok ini tidak dapat menahan laju pembangunan. Tanaman dan pohon yang menjadi sumber makanan lebah dipangkas. Tergantikan kawasan perumahan dan perkatoran. Kondisi itulah, tegas Wawan yang semakin melemahkan upaya pembentukan Perkampungan Lebah. Karena secara fisik pun menjadi kehilangan
maknanya. Setidaknya tidak bisa menjadi areal peternakan lebah.

0 komentar: