Jumat, 01 April 2011

IPLT Depok Masih Dikelola Secara Konvesional


DEPOK, Istalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) di Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat (Jabar) masih dikelola secara konvensional. Untuk memodernkan IPLT tersebut dibutuhkan biaya tidak sedikit. Diperkirakan mencapai Rp10 miliar. Hal itu dilakukan untuk menghindari polusi udara disekitarnya. “IPLT kita masih dikelola secara konvesional. Namun tidak berarti telah mencemari sungai dan udara. Kalau mau naik kelas ke tipe A dibutuhkan biaya mencapai Rp10 miliar,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) IPLT Kalimulya, Depok, Omo Syahroni Jumat (1/4).

Menurut Omo, inhoftank (tempat pengolahan limbah) satu dalam kondisi jebol. Akan tetapi,kata dia, tidak berpengaruh terhadap kondisi lingkungan apalagi sampai menyebabkan pencemaran air Sungai Ciliwung. Sebab, tinja tidak langsung dimasukkan kedalam kolam satu, dua, dan tiga. Melainkan dimasukkan terlebih dahulu dalam bak tertutup dan dipisahkan antara ampas dan air. Selanjutnya baru dimasukkan ke kolam satu, kolam dua, dan tiga. “Yang kita buang ke tanah kosong hanya tinggal ampasnya saja. Itu pun ampas yang sudah mengendap di kolam satu dan dua selama satu tahun,” katanya.

Omo menuturkan, warga bahkan berlomba-lomba mengambil ampas yang sudah dalam kondisi kering untuk dijadikan pupuk. Ia meminta Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Ulis Sumardi menaikkan anggaran operasional IPLT ini. “Untuk memperbaiki inhoftank yang jebol dibutuhkan biaya maksimal Rp200 juta,” katanya.
Ia menambahkan, untuk menaikkan kelas IPLT Depok yang saat ini masuk kategori tipe C dibutuhkan biaya tidak sedikit. Untuk masuk ke tipe A dibutuhkan biara Rp10 miliar. Sedangkan tipe B mencapai Rp50 miliar. “Saya berharap naik kelasnya secara bertahap. Bisa naik ke tipe B saja sudah cukup,” kata Omo.

Omo melanjutkan, bila IPLT Depok masuk ke tipe A maka pengolahannya dilakukan secara modern. Menggunakan kincir angin dan mesin buatan Jerman. Kincir angin dipergunakan untuk mengalirkan air, sedangkan mesin menghancurkan lumpur. “Air yang keluar menjadi jernih, tidak mengandung polusi,” katanya.

Secara terpisah, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok Rahmat Subagyo sangat mengkhawatirkan kondisi masyarakat sekitar bila instalasi pengolahan limbah itu tidak segera diperbaiki. Pasalnya, tidak hanya mencemari Kali Ciliwung tapi juga mencemari air tanah warga disekitar IPLT Kalimulya. Apalagi kadar BOD dan COD limbah kotoran manusia yang ditimbun di lokasi sementara sudah melampaui ambang batas. Hal ini, tuturnya, berpotensi menjadi limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).

Data yang diterimanya, rata-rata perhari mobil tangki pengangkut tinja yang masuk ke IPLT sebanyak 15 hingga 20 unit. Setiap mobil tangki berkapasitas tiga meter kubik. Dengan demikian, perhari rata-rata IPLT itu menampung 60 meter kubik kotoran manusia.
Omo membantah pernyataan Rahmat Subagyo. Menurutnya, Kepala BLH Rahmat Subagyo tidak melihat data yang dikeluarkan lembaganya sendiri. Pasalnya, dari catatan BLH bulan Mei tahun 2010 terlihat secara jelas bahwa BOD dan COD IPLT hanya mencapai 150. Artinya masih masih dalam kondisi normal. “Sama sekali tidak ada pencemaran. Coba, apakah udara di sekitar sini bau, kan tidak. Masyarakat pun tidaka ada yang mengeluh,” katanya.

Ia menambahkan, pengukuran air bersih yang dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh kegiatan IPLT terhadap kualitas air tanah menyatakan bahwa aktivitas IPLT tidak berpengaruh terhadap kualitas air tanah disekitarnya. Begitu juga dengan kualitas udara di sekitar IPLT. Pengukuran terhadap udara ambient dilakukan di depan kantor IPLT dinyatakan bahwa kulitas udaranya masuk kategori baik karena masih di bawah baku mutu kualitas yang ditetapkan berdasarkan PP RI No.41/1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. “Pengukuran ini dilakukan setiap bulan Mei. Dan untuk tahun 2011 belum dilakukan pengukuran. Jadi saya rasa ada kesalahan data yang dikeluarkan BLH,” ujar Omo.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok Ulis Sumardi mengatakan, pihaknya sudah mengusulkan penambahan anggaran ke Pemerintah Kota (Pemkot) Depok setiap tahunnya agar keempat kolam IPLT dapat dikeruk. “Tahun anggaran 2011 ini, dananya sudah ada untuk pekerjaan pengerukan kolam tinja. Sehingga diharapkan, keempat kolam dapat berfungsi dengan baik,” katanya.

0 komentar: