Rabu, 23 Februari 2011

Ali Mochtar Hoeta Soehoet Tutup Usia


DEPOK, Tokoh pers nasional, Ali Mochtar Hoeta Soehoet tutup usia, kemarin pukul 03.47 WIB. Ia meninggal dunia di usia 83 tahun. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Hoeta Soehot sempat dirawat di Rumah Sakit Bunda Depok selama dua minggu dan dirujuk ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat, selama dua hari.

Hoeta Soehoet merupakan mantan Rektor Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Jabatan itu kemudian dilimpahkan kepada anaknya pada 2001. Almarhum lahir di Sipirok, Sumatera Utara, 11 November 1928. Almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Rumah duka berada di Jalan Karet RT002/RW005 No. 44, Kelurahan Kemirimuka, Kecamatan Beji, Depok.

Sebelum dimakamkan, almarhum dishalatkan terlebih dahulu di Masjid Al-Huda, dekat rumahnya. Ayah tujuh anak itu telah berhasil mencetak puluhan bahkan puluhan pewarta di seluruh Indonesia.

Menurut Ilham Hoeta Soeheot, anak ketiga almarhum mengatakan, kondisi ayahnya memburuk sejak dua minggu lalu. Agar almarhum mendapatkan pengobatan lebih baik. Amlarhum dirujuk ke RSPAD Gatot Subroto. “Napasnya tiba-tiba sering sesak, padahal sebelumnya tidak pernah terjadi. Beliau kemudian dipindahkan ke RSPAD karena harus mendapat perawatan intensif,” terangnya saat ditemui di rumah duka, Rabu (23/2).

Ilham mengaku bangga dengan semangat hidup ayahnya yang tidak pernah padam. Kendati sudah sepuh, beliau selalu menyempatkan diri datang ke kampus. “Walaupun hanya dua jam, tapi dia datang setiap hari,” ujarnya.

Dimata tenaga pendidik, sosok almarhum A M Hoeta Soehoet dinilai sebagai pribadi yang penuh perhatian. Dia selalu menginginkan kemajuan pegawainya dan menyemangati mahasiswa agar belajar di Kampus Tercinta (IISIP). “Bapak selalu mendorong anak didiknya. Selalu dalam segala hal, terutama dalam bidang akademik,” terang Ispawati Asri, salah satu mantan dosen IISIP Jakarta.

Dikatakan dia, semasa hidup, almarhum selalu menanamkan nilai-nilai idealisme kehidupan. Bahkan, alharhum juga pemerhati masalah-masalah kecil. “Beliau adalah guru yang sesungguhnya,” katanya.

Hal senada juga dikatakan mantan dosen IISIP lainnya, Nur Hasanah. Ia mengatakan beliau merupakan sosok orangtua sekaligus guru yang mengenalkan dunia jurnalistik. “Nilai-nilai kebenaran selalu ditanamkan oleh almarhum dalam menjalankan hidup,” katanya.

Dalam bidang pendidikan, almarhum selalu memotivasi para dosen untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. “Beliau layaknya seorang motivator. Selalu memacu kami para dosen untuk menggapai jenjang yang lebih tinggi di dunia pendidikan,” katanya.

0 komentar: