Kamis, 20 Januari 2011

Tingkat Penyakit Gigi dan Mulut di Depok Tinggi


DEPOK, Tingkat penyakit gigi dan mulut pada anak usia sekolah di Kota Depok sangat tinggi. Hasil penelitian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok di sepuluh lokasi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang tersebar di 11 kecamatan pada priode tahun 2009-2010 menunjukan peningkatan tersebut. “Program penjaringan UKS dan UKGS yang dilakukan Dinkes Kota Depok menunjukan tingkat penyakit gigi dan mulut usia sekolah di Depok masih tinggi,” kata Kepala Dinkes Kota Depok, drg Hardiono menjawab pertanyaan Jurnal Nasional, Kamis (20/1), saat menghadiri acara kemitraan Unilever dan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut.

Jumlah penderita penyakit gigi dan mulut untuk usia taman kanak-kanak (TK): mencapai 74 persen, anak usia sekolah dasar (SD): 81 persen, sekolah menengah pertama (SMP): 71 persen, sedangkan usia sekolah menengah atas (SMA): 13 persen. “Angka ini menunjukan bahwa perhatian anak terhadap masalah kesehatan gigi dan mulut masih kurang,” kata Hardiono.

Beruntung, kata Hardiono, kerjasama antara FKG UI dan Unilever juga memperhatikan wilayah disekitar UI. Artinya, program daerah binaan juga dilakukan di wilayah Depok, Kelurahan Abadijaya, Kecamatan Sukmajaya. “Targer dari program ini adalah munculnya perbaikan tingkat kesehatan gigi dan mulut serta kesehatan secara umum,” kata dia.

Ia mengatakan, pihaknya akan menjadikan Puskesmas Abadijaya untuk menjadi pusat pelayanan penyakit gigi dan mulut. Namun, untuk menurunkan angka pesakitan gigi dan mulut di Kota Depok, ia berharap mendapatkan bantuan dari Unilever berupa mobil penyuluhan kesehatan gigi dan mulut. “Depok belum memiliki mobil khusus yang dapat melayani kesehatan gigi dan mulut. Yang kita punya baru satu mobil untuk pelayanan kesehatan umum,” kata Hardiono.

Kata Hardiono, satu kendaraan untuk pelayanan kesehatan tersebut tidak mampu melayani 1,6 juta jiwa penduduk Kota Depok. Apalagi, ujarnya, Pemkot Depok hanya memiliki 32 puskesmas dan 4 puskesmas pembantu. “Supaya Pemkot Depok dapat menekan angka pesakitan gigi dan mulut, kita berharap Unilever mau menyumbangkan mobil untuk Dinkes Kota Depok,” harapnya.

Di tempat sama, Corporate Secretary & GM External Relations PT Unilever Indonesia, Sancoyo Antarikso mengatakan, pemilihan Depok sebagai wilayah pengembangan kesehatan gigi mandiri adalah sebuah upaya penyelarasan program promosi kesehatan gigi dan mulut dengan program pelayanan kesehatan umum. “Penerapan program daerah binaan ini akan menggunakan model-model yang telah teruji sehingga diharapkan berujung pada munculnya perbaikan tingkat kesehatan gigi dan mulut,” kata dia.

Sancoyo mengatakan, mobil penyuluhan kesehatan gigi dan mulut (Eduvan) diberikan Unilever ke FKG UI untuk dijadikan sarana memberikan pelayanan bergerak, berupa edukasi tentang kesehatan gigi dan mulut kepada masyarakat. “Eduvan ini memiliki fasilitas berupa pelengkapan untuk penyuluhan TV LCD, dan DVD serta fasiltas untuk latihan sikat gigi,” katanya.

Program binaan sendiri, kata Sancoyo, dilakukan di dua daerah: Abadijaya (Depok) dan Serpong (Tanggerang Selatan). Target dari program ini, tuturnya, adalah para pengunjung Posyandu/PAUD, anak-anak sekolah dasar, serta para ibu hamil dan lansia. “Untuk memastikan program di daerah binaan ini berhasil, kami melibatkan pelbagai pihak dalam program ini,” kata dia.

0 komentar: