Senin, 24 Januari 2011

Penutupan TPA Cipayung Sebanyak 250 Pemulung Kehilangan Mata Pencarian


DEPOK, Memasuki hari keempat penutupan tempat pembuangan akhir (TPA) Cipayung, Kota Depok, menyisahkan duka bagi warga Kampung Bulak Barat, Kelurahan Cipayung, Kecamatan Cipayung, yang biasa mengais rizki di TPA Cipayung.Sedikitnya, 250 pemulung kehilangan pendapatannya atas penutupan TPA tersebut. Padahal, setiap harinya seorang pemulung dapat mengantongi uang hasil mulung Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu.

Asenih (56) mengaku sudah sepuluh tahun lebih memulung di TPA Cipayung. Baginya, TPA Cipayung merupakan tempat penyimpanan emas. Hanya saja, emas-emas tersebut masih dalam bentuk kasar berupa sampah. “Kalau kita jual, sampah-sampah itu bisa berubah jadi duit. Setiap hari saya dapat Rp30 sampai 50 ribu per hari. Cukup untuk menghidupi keluarga,” katanya.

Asenih harus rela menganggur lantaran saat ini TPA Cipayung ditutup. Sejak pemukulan tersebut, kata Asenih, ia terpaksa mengali sampah dari tumpukan-tumpukan sampah lama. “Hasilnya sama sekali tidak memuaskan. Dari pagi sampai siang hanya dapat setengah karung,” katanya.

Ia menambahkan, “Sudah empat hari tempat ini sepi karena di tutup. Biasanya rame, sampai ratusan orang mulung. Kalau di tutup begini, ya nganggur.”
Warga RT001/RW07 mengatakan, penutupan TPA Cipayung oleh para sesepuh kampung sejujurnya tidak ada pemberitahuan. Hanya saja, ia mengeluhkan atas penutupan TPA Cipayung yang sudah tutup selama empat hari. “Kalau di tutup, kita yang susah. Terpaksa kita nyari barang dengan menggali dan hasilnya tidak seberapa. Kita ingin agar tetap di buka seperti semula dan diadakan kembali,” kata dia.

Hal senada diutarakan Asep (35). Ia mengatakan, sebanyak 250 orang berprofesi sama dengan dirinya kini terkatung-katung. “Mereka bingung mau dikasih makan apa keluarga mereka kalau TPA ditutup. Sudah empat hari ini, saya hanya dapat uang Rp5000,” katanya.

Biasanya, terang Asep, seorang pemulung mendapatkan penghasilan lebih dari 40 ribu per hari. Dalam satu bulan, kata dia, seorang pemulung dapat mengumpulkan uang sampai Rp1.950.000 per orang. “Kalau di tutup begini, kita hanya bisa ngumpulin Rp 5 ribu per hari. Kita ingin agar cepat di buka dan beroperasi,” katanya penuh harap.
Kepala Bidang Kebersihan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Rahmat Hidayat menuturkan, penutupan TPA sebetulnya tidak hanya berimbas pada para pencari akan tetapi juga berpengaruh pada truk-truk pengangkut sampah.

Ia menuturkan, sebanyak 56 sopir truk pengangkut sampah sudah empat hari mengangur bersama kernetnya. Dalam satu trukpengangkut sampah, imbuhnya, dikendarai seorang sopir dengan dibantu empat kernet. “Setiap satu rit truk sampah, biasanya kernet dapat menyisihkan barang bekas dan bisa mengumpulkan penghasilan sebesar Rp200 ribu. Jumlah itu, dibagi rata dengan sopir dan empat kerneknya. Kalau tidak beroperasi ya tidak ada penghasilan buat mereka,” kata dia
.
Sementara itu, anggota Komisi C DPRD Kota Depok Babai Suhaimi menilai adanya penurunan penghasilan pemulung hanyalah pengalihan isu. Pasalnya, area seluar kurang lebih 12 hektar masih memiliki banyak barang bekas dengan cara digali atau dikais. “Bohong besar kalau pemulung itu penghasilannya menurun. Itu kan hanya dipolitisir belaka. Kalau mau bekerja keras, kan bisa dengan mengorek-ngorek,” kata dia.

Babai mengaku, penutupan TPA Cipayung sudah menjadi keputusan warga. Keputusan tersebut diambi dari hasil pertemuan. “Warga sepakat dilakukan penutupan dengan syarat ada penggantinya dari pemerintah. Dengan kata lain, sambungnya, pemerintah harus bertanggungjawab dan setelah menyepakati 12 permintaan warga baru bisa di buka,” kata dia.

0 komentar: