Minggu, 17 April 2011

Petaka Kotak Amal, Anak Kesayangannya pun Meninggal


DEPOK, Siapa sangka, Atika Cahaya Putri (3) begitu cepat menghadap Sang Pencipta Langit dan Bumi. Padahal, baru kemarin anak semata wayang, Leman (28), mengubar senyum dan tawa kepada para tetangganya. Kini hal itu tak dapat disaksikan lagi, Putri telah tiada. Ia merenggangkan nyawa setelah tertimpa kotak amal yang terbuat dari kayu jati.

Rumah kontrakan Leman, di Kampung Bulak RT002/RW 013, Kelurahan Kemirimuka, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat (Jabar) Minggu (17/4) terlihat sepi. Rumah itu kini terkunci rapat. Biasanya, si empunya rumah sehari-hari kerap terlihat aktifitas mempersiapkan dagangan. Kesunyian ini sudah terjadi sejak Sabtu (16/4) malam karena mereka sekeluarga berada di Tegal, Jawa Tengah untuk memakamkan Putri.
Duka keluarga ini sangat terlihat saat mengetahui putri kesayangannya meregang nyawa di rumah sakit. Putri meninggal dunia di rumah sakit swasta, terletak di Jalan Raya Sawangan, Depok. lantaran kehabisan darah. Putri mengalami luka di kepala belakang. Bocah ini tertimpa kotak amal masjid yang tebuat dari kayu, pada Sabtu (16/4).

Salah seorang tetangga korban Ahmadi (28) menceritakan kronologis petaka itu. Pada pukul 16.00 WIB balita ini bermain di masjid. Saat itu jemaah usai menjalankan ibadah dan meninggalkan Masjid Al-Munawaroh. Putri bemain seorang diri, sedangkan orangtuanya tengah mempersiapkan dagangan. Leman setiap hari berjualan nasi goreng di Pasar Kemirimuka. “Dia memang sering main ke masjid sendirian. Mungkin karena orangtuanya repot jadi dia main di masjid,” katanya.

Keluarga Leman sendiri baru enam bulan tinggal di Kampung Bulak. Rumah yang dikontraknya berhadapan dengan Masjid Al-Munawaroh. Asyik bermain kotak amal, Putri seolah tidak mengetahui bahaya. Kotak tersebut lebih tinggi dari tubuh Putri. Kotak kayu itupun jatuh dan menimpa balita ini. Kepalanya terkena kotak yang memiliki berat lima kilogram lebih. “Dia menangis kesakitan. Orang-orang pada datang dan melihat di sudah di lantai,” ujarnya.

Warga yang panik langsung menghampiri arah suara tangisan. Mereka syok melihat kondisi Putri yang sudah bersimbah darah. Di lantai masjid pun berceceran darah segar balita ini. “Nggak tega lihatnya. Kasihan. Orangtuanya syok lihat anaknya seperti itu,” ceritanya.

Putri pun dilarikan ke rumah sakit. Sayangnya, karena faktor ekonomi, nyawa Putri tidak dapat diselamatkan. Informasi yang berkembang diketahui, keluarga diminta menyediakan uang Rp 60 juta untuk biaya operasi. Akibat ketidakberdayaan, Leman pun menyerah. Penghasilannya sebagai pedagang nasi goreng tidak mampu untuk membiaya operasi anaknya. Putri pun menghembuskan nafasnya di ruang rumah sakit.
Jasadnya langsung dibawa ke kampung halaman Leman, Tegal, Jawa Tengah malam itu juga. Jasad balita ini dibawa menggunakan mobil ambulance milik RW Siaga. Kini rumah Leman masih terkunci rapat. Tidak ada lagi keceriaan wajah Putri di rumah kontrakan Leman bersama istrinya.

Sebelum dimakamkan, Leman mengaku pasrah dengan kejadian yang menimpa anak semata wayangnya. Dia tidak ingin menuntut siapapun, termasuk rumah sakit yang tidak bersedia mengoperasi anaknya lantaran tidak memiliki biaya. “Keluarga ikhlas. Kami hanya bisa berdoa semoga anak kami tenang di sana,” katanya.

0 komentar: