Kamis, 24 Februari 2011

Aparatur Pemkot Depok Berantas Preman


DEPOK, Maraknya aksi premanisme di Kota Depok membuat aparatur Pemerintah Kota (Pemkot) Depok gerah. Pasalnya aksi premanisme tersebut sudah sangat meresahkan masyarakat. Kepala Bidang Sosial Dinas Tenaga Kerja dan Sosial (Disnakersos) Depok, Tinte Rosmiati meyakini preman yang terjaring merupakan pendatang baru, belum pernah tertangkap sebelumnya. “Ke-23 premen yang terjaring merupakan pendatang baru. Mereka baru pertama kali di tangkap,” katanya, Kamis (24/2).

Tinte mengatakan, puluhan preman yang terjaring Disnakersos dan Polresta Depok akan diberikan pembinaan, setelah itu baru dikembalikan kekeluarganya masing-masing. “Bagi preman yang bukan warga Depok, kami kembalikan ke daerah masing-masing,” kata dia.

Wanita berjilbab ini menambahkan, pembinaan yang dilakukan berupa pemberian keterampilan. Mengenai rehabilitasi, kata Tinte, ia mengaku kesulitan jika harus dilaksanakan hanya dengan satu instansi saja. “Untuk merubah pola pikir mereka itu tidak mudah. Yang kami berikan saat ini mengenai keterampilan agar menjadi bekal mereka untuk berkreasi. Dengan begitu diharap mereka tidak lagi berada di jalanan seperti saat ini,” kata Tinte.

Terpisah, Kasi Humas Polresta Depok, AKP Amat Sodikun mengatakan, razia dilakukan di sejumlah titik yang dinilai rawan dan kerap digunakan sebagai tempat berkumpul preman dan anak jalanan. Dari hasil razia yang dilakukan pada Rabu (23/2) sedikitnya 23 orang berhasil diamankan. “Razia dilakukan dalam rangka memberantas premanisme di Depok. Razia ini akan terus dilakukan hingga tuntas,” katanya.

Ia mengatakan, razia pada hari pertama dilakukan di Jalan Siliwangi. Di lokasi tersebut kerap didapati anak jalanan dan pengamen. Mereka dinilai meresahkan penumpang angkutan kota. “Dari laporan yang kami terima, maka lokasi tersebut menjadi salah satu target razia. Mereka biasanya mengamen di angkot,” terang Sodikun.

Dari pengamatan di lapangan para pengamen, anak jalanan, dan preman kerap berada di lampu merah Jalan Siliwangi. Penampilan mereka kerap membuat khawatir pengendara ataupun penumpang angkot. “Mereka kami bawa dan kami beri pengarahan. Selanjutnya mereka dikirim ke Dinas Sosial,” ujar Sodikun.

Dikatakan Sodikun, upaya penanggulangan tindak premanisme dan kriminal terus dilakukan jajaran Polresta Depok. Mayoritas mereka berumur belasan tahun. “Dari pengakuan mereka, mereka adalah warga Depok,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Satuan Polisi Pamong Praja, Sariyo Sabani mengatakan, Depok disinyalir kerap dijadikan lokasi tujuan pengamen dan anak jalanan. Sejumlah lokasi yang dijadikan arena berkumpul mereka yaitu Simpang Keluarahan Cilangkap dan Kelurahan Cilodong yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bogor dan kawasan Cibubur perbatasan Jakarta Timur. “Di tempat-tempat tersebut kita pantau terus. Supaya tidak masuk ke sini,” kata dia.

Yang membuat dirinya terkejut, para anak jalanan tersebut mengaku dibuang oleh orang tak dikenal. Padahal, mereka sudah pernah ditangkap dalam razia sebelumnya dan dikembalikan ke daerahnya. “Mereka itu sudah kita kembalikan ke daerah asalnya, tapi tahu-tahu sudah ada lagi,” kata Sariyo.

Maraknya aksi premanisme dan anak jalanan di wilayah Depok terjadi saat Bantuan Polisi Pamong Praja (Banpol PP) dibubarkan. Biasanya Banpol PP menjaga di setiap titik yang dikategorikan rawan.

0 komentar: